Kementerian Kebudayaan RI dan DPR RI Gelar Diskusi Budaya di Luwu Utara, Bahas Penguatan Identitas Lokal

Berita53 Dilihat
banner 468x60

Yaqra.com, Luwu Utara — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menggelar diskusi budaya bertema “Menggali Kearifan Lokal untuk Memperkuat Identitas Budaya” di Hotel Remaja, Kabupaten Luwu Utara, Senin, 5 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah perubahan zaman dan derasnya arus globalisasi.

banner 336x280

Diskusi dibuka langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Selatan, Azhar Arsyad.

Lima narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Andi Suriadi Opu To Pasolongi, Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu; Prof. Dr. Masruddin, S.S., M.Hum, Wakil Rektor II UIN Palopo; Zulfikar Limolang, S.T., Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan; Mahir Takaka, tokoh pemerhati budaya; serta Riswan Bibbi, anggota DPRD Kabupaten Luwu Utara.

Dalam diskusi, Andi Suriadi Opu To Pasolongi menyoroti semakin bergesernya sejumlah nilai kesopanan dalam kehidupan masyarakat, salah satunya budaya mappatabe’.

Menurutnya, mappatabe’ yang merupakan bentuk penghormatan dan sopan santun dalam budaya masyarakat Luwu perlu terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda.
“Sopan santun seperti mappatabe’ adalah salah satu budaya kita yang mulai tergeser. Ini menjadi tugas kita bersama untuk menjaganya,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Masruddin menekankan pentingnya menjaga bahasa lokal sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya.
Menurutnya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi menjadi salah satu fondasi utama dalam mempertahankan identitas suatu masyarakat.
“Kita harus selalu merawat bahasa lokal karena bahasa lokal memiliki dampak yang luar biasa bagi budaya. Identitas budaya akan hilang ketika bahasa daerah hilang,” kata Masruddin.

Pandangan serupa disampaikan Zulfikar Limolang. Ia mengatakan budaya tidak boleh dipandang sebatas simbol atau tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, budaya memiliki peran mendasar dalam membentuk karakter masyarakat, termasuk memengaruhi keinginan, pola pikir, nilai-nilai serta perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.
“Budaya bukan sekadar simbol, tetapi merupakan faktor penentu yang mendasar atas keinginan, pola pikir, nilai dan perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Tokoh pemerhati budaya, Mahir Takaka, juga mengingatkan pentingnya memperkuat kembali berbagai identitas budaya lokal yang mulai tenggelam. Ia mendorong masyarakat untuk tidak membiarkan tradisi dan nilai-nilai lokal kehilangan tempat di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Luwu Utara, Riswan Bibbi, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kearifan lokal yang saat ini menghadapi tantangan dari derasnya arus globalisasi.
Menurutnya, kemajuan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas daerah.

Diskusi tersebut diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menjaga bahasa, tradisi, nilai kesopanan, dan berbagai bentuk kearifan lokal sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Luwu Utara dan Luwu Raya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *