Opini: Antara Cermin dan Buku; Merawat Jiwa yang Tak Pernah Berhenti Bertanya

Opini48 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mariana (Ana)

‎Belakangan ini saya mulai menyadari perubahan di lingkungan saya hingga membuat saya bertanya-tanya, mengapa Justru kita lebih sibuk memperbaiki apa yang terlihat sampai lupa memperkaya apa yang tidak terlihat.
‎
‎Setiap generasi memiliki cara sendiri untuk menjalani zamannya. Ada yang , tumbuh dengan buku di tangan, serta ruang diskusi yang penuh pertanyaan dan perdebatan. Ada pula yang tumbuh didepan layar yang tak pernah berhenti menyala, dimana perhatian kini lebih cepat di dapati dari pada apa yang terlihat dan yang di pikirkan.
‎
‎
‎Hari ini, kita hidup di zaman ketika segala sesuatu dapat diunggah. Penampilan, aktivitas, bahkan kehidupan pribadi dapat menjadi sesuatu yang ingin terus diperlihatkan kepada orang lain. Ataukah karna sebab kemudahan ini membuat kita ingin terus di perhatikan, dan diakui?
‎
‎
‎Cermin membuat kita bertanya, “Bagaimana saya terlihat?”
‎Sementara buku membuat kita bertanya, “Apa yang belum saya ketahui?”
‎
‎Sebab prihal wajah dan fisik akan berubah di makan oleh waktu, tetapi isi kepala yang terus dirawat akan terus tumbuh menjadi akar yang menetap di dalam diri.”
‎
‎Coba kita kembali bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali kita benar-benar membicarakan sebuah buku, sebuah gagasan, atau sesuatu yang membuat kita ingin belajar lebih jauh.
‎
‎Di tengah kehidupan  yang semakin dekat dengan teknologi, informasi, dan berbagai kemudahan, mengapa ruang-ruang belajar justru semakin sunyi? Mengapa semangat untuk membaca, berdiskusi, bertanya, dan mencari tahu seolah menjadi hal yang membosankan.
‎
‎Dan mungkin di situlah letak ironi zaman kita: kita memiliki lebih banyak akses terhadap pengetahuan, tetapi semakin mudah kehilangan rasa ingin tahu.
‎
‎Gagasan ini mengingatkan saya pada pemikiran Socrates seorang filsuf Yunani yang menekankan pentingnya menyadari keterbatasan pengetahuan diri
‎Dari kesadaran bahwa kita belum tahu itulah muncul keberanian untuk bertanya, mencari, dan memahami.
‎
‎Semangat belajar, bagi saya, bukan sekadar tentang seberapa banyak buku yang berhasil kita baca. Justru semakin banyak kita membaca, semakin kita menyadari bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui.
‎
‎Karena itu, orang yang gemar belajar bukanlah orang yang merasa paling tahu, melainkan orang yang selalu memiliki pertanyaan baru setelah menemukan sebuah jawaban.
‎
‎

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *