IRT Asal Luwu Utara Korban Salah Tembak Oknum Polisi di Tarakan kembali Dirawat di RSUD Andi Djemma Masamba

Berita32 Dilihat
banner 468x60

Yaqra.com, Luwu Utara — Seorang ibu rumah tangga (IRT), Hasna, warga asal Desa Tarobok, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yang menjadi korban penembakan salah sasaran oleh oknum anggota Polres Tarakan, Kalimantan Utara, pada Selasa, 27 September 2022 lalu, kembali menjalani perawatan di rumah sakit.

Pada Sabtu malam (9/5/2026), Hasna kembali dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Djemma Masamba, Kabupaten Luwu Utara, setelah mengeluhkan rasa sakit di bagian bekas operasi akibat luka tembak yang dialaminya beberapa tahun lalu.

banner 336x280

Menurut pengakuannya, rasa sakit tersebut kembali muncul dan turut memengaruhi kondisi psikisnya.
“Saya rasakan sakit di bagian operasi saya, yang kena tembak salah sasaran 27 September 2022 lalu. Saya juga dirujuk ke poli jiwa karena rasa takut dan trauma saya masih ada sampai sekarang. Terkadang saya lagi baring tiba-tiba saya merasa ingin lari, tapi saya bingung mau lari ke mana. Setiap hari hidup saya tidak tenang dan gelisah,” ungkap Hasna.

Hasna mengaku, sejak insiden penembakan yang diduga terjadi saat aparat melakukan upaya penangkapan seorang buronan di Tarakan, kondisi kesehatannya terus menurun. Selain masih sering merasakan sakit, berat badannya juga disebut terus menurun dan aktivitasnya tidak lagi seperti sebelumnya.
Mengetahui kondisi tersebut, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Luwu Utara, dr. Haslinda, bergerak cepat setelah menerima informasi melalui pesan WhatsApp terkait kondisi Hasna yang sedang dirawat di RSUD Andi Djemma Masamba.

Setelah menerima laporan tersebut, dr. Haslinda langsung menginstruksikan Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Dinas P3AP2KB Kabupaten Luwu Utara untuk melakukan penjangkauan dan pendampingan terhadap korban.
“Setelah saya mendapatkan informasi melalui WhatsApp, pada Senin (11/5/2026) saya langsung menginstruksikan UPT PPA Dinas P3AP2KB untuk melakukan penjangkauan korban, memastikan kondisi kesehatan korban, serta melakukan asesmen terkait identitas, kronologis kejadian, dan kondisi psikis korban. Kami juga siap melakukan pendampingan apabila korban ingin menempuh langkah hukum atau berkoordinasi dengan pihak kepolisian,” ujar dr. Haslinda.

Sebelumnya, Hasna telah menceritakan kronologi insiden yang dialaminya kepada media. Saat itu, dirinya sedang melayani pembeli di warung miliknya ketika sebuah mobil yang ditumpangi sejumlah anggota polisi berhenti untuk mengisi bahan bakar.
“Awalnya polisi datang pakai mobil, di dalamnya ada sekitar empat atau lima orang. Mereka singgah di depan warung saya untuk isi bensin. Saat saya sedang isi bensin, ada dua orang lewat berboncengan naik motor, sempat saya ingatkan supaya pelan karena jalan sempit,” ujar Hasna.

Tak lama berselang, Hasna mengaku tiba-tiba merasakan sakit hebat sebelum akhirnya tersungkur.
“Tiba-tiba saya berteriak karena dada saya terasa sakit sekali, seperti kena ledakan. Saya langsung sesak, teriak minta tolong. Anak saya juga ikut berteriak karena melihat langsung saya terkena tembakan,” katanya.

Usai kejadian, Hasna sempat menjalani perawatan di Tarakan sebelum dirujuk ke Samarinda karena kondisi paru-paru kanannya mengalami gangguan serius dan harus menjalani operasi.

Hasna mengaku sempat dijanjikan seluruh biaya pengobatan akan ditanggung hingga dirinya pulih. Namun menurutnya, janji tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Akibat kejadian itu, Hasna mengaku mengalami kerugian secara fisik, psikis, maupun ekonomi. Hingga kini, ia berharap ada kejelasan, keadilan, dan tanggung jawab dari pihak kepolisian atas kondisi yang masih dialaminya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *